Sabtu pagi, 23 April 2026, suasana di SMP Islam Fitrah Al Fikri terasa berbeda. Di beberapa ruang kelas terdengar alunan musik ansambel, di sudut lain tampak karya desain grafis dipajang rapi, sementara sejumlah siswa sibuk menunjukkan hasil eksperimen sains mereka kepada para tamu yang datang.

Hari itu sekolah menggelar Talent Expo, sebuah kegiatan penutup rangkaian program peminatan yang telah berjalan selama satu tahun penuh.

Di sekolah ini, peminatan bukan sekadar kegiatan tambahan. Seluruh siswa diwajibkan mengikuti salah satu bidang sesuai minat dan potensi mereka. Pilihannya pun beragam: fotografi, ansambel, sainsperimen, wood carving, menulis kreatif, desain grafis, English Club, teater, hadroh, hingga Math Art.

Namun di antara berbagai ruang kegiatan yang ramai dikunjungi, satu kelas tampak sunyi namun sekaligus hangat. Di ruangan itulah peminatan Math Art berlangsung.

Meski namanya Math Art, fokus kegiatan ini sebenarnya adalah aeromodelling atau dunia kedirgantaraan. Selama setahun, para siswa belajar banyak hal: mengenal struktur pesawat model, memahami prinsip keseimbangan, mempelajari desain aerodinamika sederhana, hingga teknik menerbangkan pesawat tenaga karet.

Talent Expo tahun ini dibuat lebih istimewa. Orang tua siswa tidak hanya diundang untuk melihat presentasi hasil belajar anak-anak mereka. Mereka diajak masuk ke dalam pengalaman itu.

Mereka ikut merakit pesawat.

Di dalam kelas, meja-meja dipenuhi potongan kayu balsa, sayap dari lembaran tipis hard styrofoam, baling-baling plastik, dan gulungan karet gelang. Para siswa yang biasanya menjadi peserta kini berganti peran menjadi “mentor kecil” bagi ayah dan bunda mereka sendiri.

Sebelum praktik dimulai, para peserta peminatan menjelaskan perjalanan belajar yang telah mereka lalui selama satu tahun. Dengan penuh percaya diri mereka menerangkan bagaimana tenaga karet mampu menghasilkan dorongan, mengapa posisi sayap memengaruhi kestabilan, hingga bagaimana sudut tertentu dapat membuat pesawat terbang lebih jauh.

Beberapa orang tua tampak serius menyimak. Sebagian lain tersenyum kagum melihat anak-anak mereka berbicara layaknya instruktur muda.

Lalu suasana kelas berubah menjadi lebih cair.

Satu keluarga duduk dalam satu meja, bekerja sama menyusun bagian demi bagian pesawat model. Ada ayah yang teliti memasang rangka sayap. Ada bunda yang sibuk menahan badan pesawat sambil sesekali tertawa ketika baling-baling terlepas. Dan ada anak-anak yang dengan antusias mengarahkan orang tua mereka.

Momen-momen kecil seperti itulah yang membuat kegiatan ini terasa berbeda.

Belajar tidak lagi berjarak antara sekolah dan rumah. Ia hadir di tengah percakapan sederhana, kerja sama kecil, dan tawa yang muncul tanpa direncanakan.

Bagi sebagian orang tua, pengalaman itu bahkan menjadi penemuan baru. Mereka baru menyadari bahwa proses belajar anak-anak hari ini ternyata begitu dekat dengan kreativitas, eksperimen, dan kolaborasi.

Setelah seluruh pesawat selesai dirakit, peserta bergerak menuju lapangan sekolah. Matahari pagi mulai meninggi ketika satu per satu pesawat diuji terbang.

Inilah momen yang paling dinanti.

Anak-anak berdiri tegang. Orang tua ikut menatap penuh harap. Karet diputar perlahan, baling-baling mulai bergetar, lalu pesawat dilepaskan ke udara.

Beberapa pesawat langsung meluncur mulus. Sebagian lain berputar kecil sebelum jatuh ke rumput. Tetapi justru di situlah sorak-sorai terdengar paling meriah.

Tak ada wajah kecewa yang berlebihan. Yang muncul justru gelak tawa dan semangat untuk mencoba kembali.

Pesawat rakitan bunda Raka akhirnya dinobatkan sebagai pesawat dengan penerbangan paling stabil. Tepuk tangan pun pecah di lapangan.

Namun lebih dari sekadar mencari juara, Talent Expo ini sesungguhnya sedang memperlihatkan sesuatu yang lebih penting: bahwa pendidikan bukan hanya tentang nilai dan teori.

Ia adalah pengalaman hidup.

Di SMP Islam Fitrah Al Fikri, kreativitas, logika, dan kebersamaan tumbuh menjadi pengalaman nyata melalui kegiatan seperti ini. Anak-anak belajar tentang sains dan ketelitian, tetapi juga belajar bekerja sama, percaya diri, dan berbagi proses dengan keluarga mereka sendiri.

Ketika pesawat-pesawat kecil itu terbang di langit pagi Depok, yang ikut tumbuh sebenarnya bukan hanya kemampuan siswa.

Melainkan juga kedekatan antara anak dan orang tua.

Dan mungkin, itulah pelajaran paling tinggi yang berhasil diterbangkan hari itu.