Malam itu, awal Januari 2019, Sapto melintas di depan Kantor Sekretariat ASEAN di Jalan Sisingamangajara, Jakarta Selatan. Dia hendak naik TransJakarta di Halte CSW (Centrale Stichting Wederopbouw) yang berlokasi di depan Sekreatriat ASEAN.

Sapto pun menaiki tangga untuk menuju halte tersebut. Terlihat sangat tinggi. Memang jalan layang khusus TransJakarta di depan ASEAN tersebut memiliki tinggi 23 meter. Setara bangunan 3-4 tingkat. Ada 117 anak tangga yang harus dilalui Sapto. Ngos-ngosan tentu saja.

Setelah melalui lebih dari 100 anak tangga, Sapto akhirnya sampai di lantai teratas. Tapi lacur bagi Sapto, ternyata pintu halte ditutup. Capai, dongkol, dan ingin marah rasanya jadi satu. Ia pun harus turun lagi ke bawah dengan langkah gontai.

Itu pengalaman Sapto beberapa tahun lalu di Halte CSW. Sekarang, ceritanya berbeda. Tak akan ada lagi “korban” seperti Sapto di halte tersebut. Halte CSW, sekarang sudah jadi halte terintegrasi dan salah satu hal paling menawan di Jakarta.

Mau baca berita terkait kebijakan di Indonesia lainnya? Klik di sini 

Sebelum menjadi halte terintegrasi seperti sekarang, halte ini dirancang tanpa memikirkan bahwa ada orang berkebutuhan khusus juga berhak untuk naik transportasi publik. Ada ibu hamil, lansia, dan teman-teman difabel yang tidak bisa disamakan dengan orang kebanyakan.

Jalur tersebut, saat dibangun memang tujuannya membuat jalur bus khusus yang bebas macet. Tujuan tersebut memang berhasil, tapi kurang memikirkan bagaimana pengguna, khususnya orang dengan kebutuhan khusus, untuk sampai di halte.

Halte CSW mengintegrasikan moda transportasi

Mural di Halte CSW yang menjadi salah satu spot favorit swafoto para komuter.

Di masa kepemimpinan Anies Baswedan, Halte CSW dirombak. Semua moda disatukan dalam satu halte. Bukan hanya memudahkan dan memanjakan penumpang, halte tersebut juga menyatukan berbagai moda transportasi, khususnya MRT dan TransJakarta.

Halte CSW sendiri diresmikan oleh Anies Baswedaann pada Desember 2021. Halte ini sekarang dilengkapi lorong penghubung yang bersih dan nyaman. Mirip dengan lorong di bandar udara yang mewah. Lorong ini menghubungkan stasiun MRT dan halte TranJakarta.

Oh ya, di halte ini juga terdapat lift prioritas untuk lansia, ibu hamil, dan teman-teman difabel. Jadi tak ada lagi cerita mereka harus naik tangga manual 23 meter yang bakal merepotkan dan menyiksa. Penumpang benar-benar diberi fasilitas dan hak setara untuk mendapatkan kenyamanan di Halte Integrasi CSW ini.

Konsep halte terintegrasi ini adalah contoh bagaimana visi seorang pemimpin itu sangat penting. Seorang pemimpin yang baik, harus bisa memberikan fasilitas publik yang setara bagi siapa saja. Termasuk bagi orang-orang yang memang perlu mendapatkan prioritas seperti lansia, ibu hamil, dan teman-teman difabel.

Pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik, tidak boleh asal dibangun dan jadi. Fasilitas publik harus bisa memberikan kenyamanan, keamanan, dan kesetaraan bagi seluruh warga, tanpa terkecuali. Sekarang, kita bisa melihatnya di Halte CSW.

Di halte ini juga terdapat beberapa karya seni seperti poster, mural, dan photo box yang Instagramable. Banyak pengguna yang berhenti dan berswafoto di halte ini. Selain memudahkan bagi para komuter, Halte CSW memberikan kebahagian bagi para penggunanya.

 

Foto utama: Instagram @rfkyw