Sepakbola dan Italia adalah dua entitas yang mustahil dipisahkan. Bagi publik Negeri Piza, sepakbola bukan sekadar olahraga. Sepakbola adalah kebanggaan nasional, seperti seloyang piza atau sepiring spageti.
Namun, sejarah mencatat sebuah ironi yang begitu getir tahun ini. Sang raksasa pemilik empat bintang di dada kini harus kembali meratapi nasib di balik tirai kaca. Untuk ketiga kalinya secara berturut-turut Gli Azzurri harus absen dari panggung termegah jagat raya, Piala Dunia. Ini adalah nestapa terdalam bagi negara yang secara tradisi merupakan kiblat taktik dan pertahanan dunia.
Raksasa yang Kehilangan Taring
Sebagai kolektor trofi Piala Dunia terbanyak kedua setelah Brasil (bersama Jerman), kegagalan Italia masuk Piala Dunia adalah anomali yang menyakitkan. Bagaimana mungkin juara Euro 2020 yang sempat memecahkan rekor 37 pertandingan tak terkalahkan di bawah asuhan Roberto Mancini, bisa terjembab dalam lubang yang sama berkali-kali?
Tragedi ini bermula dari Ventura di kualifikasi 2018, berlanjut ke petaka melawan Makedonia Utara untuk 2022, dan kini mencapai puncaknya pada kegagalan kualifikasi 2026. Italia kini lebih menyerupai museum sejarah. Penuh dengan kejayaan masa lalu, namun rapuh di masa kini.
Kegagalan ketiga ini bukan lagi sekadar masalah teknis di lapangan hijau, melainkan sinyal merah bagi federasi sepakbola Italia (FIGC). Sepakbola Italia membutuhkan perubahan sistem untuk merombak total sistem pembinaan mereka.
Tanpa perubahan radikal, Italia terancam hanya akan menjadi penonton setia di saat negara-negara lain berpesta. Nestapa ini menjadi pengingat pahit bahwa di sepakbola, sejarah besar dan deretan trofi tidak pernah memberikan tiket gratis menuju masa depan. Italia harus belajar kembali cara untuk menang, atau terkubur bersama kejayaan masa lalunya. Sangat mungkin mereka akan absen lagi di Piala Dunia.

Timnas Italia gagal ke Piala Dunia 2026.
Mengapa Italia Gagal 3 Kali Beruntun?
Para pundit sepakbola menunjuk pada beberapa lubang menganga dalam sistem sepakbola Italia yang gagal diperbaiki selama satu dekade terakhir.
Krisis Penyerang Murni
Italia selalu dikenal memiliki striker mematikan seperti Paolo Rossi, Christian Vieri, atau Filippo Inzaghi. Namun kini, Italia mengalami kekeringan penyerang tengah yang tajam. Ketergantungan pada penyerang sayap yang dipaksakan menjadi ujung tombak membuat lini depan Italia tumpul di saat-saat krusial.
Kurangnya Kepercayaan pada Pemain Muda di Serie A
Klub-klub besar Italia (Serie A) cenderung lebih suka membeli pemain asing “instan” daripada memberi jam terbang kepada bakat lokal. Hal ini membatasi regenerasi pemain di tim nasional. Berbeda dengan Spanyol atau Jerman yang memiliki sistem integrasi usia muda yang sangat rapi, pemain muda Italia sering kali “berkarat” di bangku cadangan.
Arus Taktis yang Tertinggal
Italia lama terjebak dalam romantisme Catenaccio (pertahanan grendel). Meski sempat mencoba bermain lebih ofensif di bawah Mancini, Italia sering kali kehilangan identitas saat menghadapi tim dengan determinasi tinggi dan blok pertahanan rendah. Mereka menguasai bola, namun minim kreativitas untuk memecah kebuntuan.
Beban Mental dan Psikologis
Gagal satu kali adalah kecelakaan. Gagal dua kali adalah tragedi. Gagal tiga kali adalah trauma sistemik. Para pemain Italia kini memikul beban mental yang sangat berat setiap kali mengenakan seragam biru di babak kualifikasi. Ketakutan akan kegagalan justru menjadi nubuat yang menjadi kenyataan.









