Gunung Lawu, yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, menjadi salah satu destinasi favorit para pendaki dan pecinta alam. Selain menawarkan pemandangan alam yang indah, gunung ini juga menyimpan keunikan tersendiri, salah satunya keberadaan burung anis gunung atau biasa juga disebut dengan nama jalak gading atau jalak lawu. Burung yang banyak ditemukan di Gunung Lawu ini sering dianggap sebagai “pemandu” bagi para pendaki.

Anis gunung (Acridotheres melanopterus ) adalah spesies burung endemik Indonesia yang biasa ditemukan di daerah hutan, khususnya di lereng gunung. Ciri anis gunung antara lain memiliki paruh yang berbentuk lancip berwarna gading, bulu pada kepala dan tubuh berwarna cokelat, bulu pada bagian dada berwarna kuning emas, dan kaki berwarna kuning gading.  Paruh dan kaki berwarna gading ini yang kemudian membuat anis gunung disebut juga dengan jalak gading. Bentuk tubuhnya sekilas memang mirip burung jalak kebo.

Satwa mungil ini seringkali tampak begitu jinak, namun biasanya akan langsung terbang begitu didekati. Burung ini biasanya ditemukan di sekitar pos 2 dan pos 3 jalur pendakian Cemoro Kandang, salah satu jalur pendakian utama Gunung Lawu. Keberadaannya di area ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki, tidak hanya karena keindahan fisiknya, tetapi juga mitos dan pengalaman unik yang sering dialami oleh para pendaki.

Menurut cerita turun-temurun dari sesepuh setempat dan pengalaman para pendaki, anis gunung kerap muncul di saat-saat tertentu , seperti ketika seseorang tersesat atau sedang dalam kondisi bingung menentukan arah. Beberapa pendaki melaporkan bahwa burung ini terbang berputar di atas mereka sebelum akhirnya “menunjukkan” jalan yang benar. Karena itulah, burung ini dihormati sebagai simbol penuntun spiritual di Gunung Lawu.

Selain itu, kehadiran jalak gading juga menjadi indikator keberhasilan pelestarian alam di kawasan Gunung Lawu. Burung ini dulunya hampir punah akibat perburuan liar dan hilangnya habitat. Namun, berkat upaya konservasi dan kesadaran masyarakat sekitar, populasinya mulai pulih. Para petugas setempat bahkan telah membentuk kelompok perlindungan untuk menjaga keberadaan burung ini dari ancaman eksploitasi.

Bagi para pencinta alam dan wisatawan, melihat langsung jalak gading di habitat aslinya menjadi pengalaman yang langka dan mengesankan. Sayangnya, fenomena ini juga menarik minat oknum tertentu untuk memanfaatkannya secara ilegal. Oleh karena itu, penting bagi para pendaki dan pengunjung untuk menjaga sikap, tidak mengganggu habitat burung, serta mendukung upaya pelestariannya.

Gunung Lawu bukan hanya sekadar tujuan pendakian, tetapi juga simpanan nilai budaya, sejarah, dan kekayaan alam yang harus dijaga. Kehadiran jalak gading di jalur pendakian menjadi pengingat bahwa alam masih memiliki misteri dan keajaiban yang layak kita lestarikan bersama.

Tulisan ini diperkaya dari artikel di sukuh.com.