Suasana Pusat Edukasi Dirgantara (Pusdirga) Cibubur tampak jauh lebih ceria dari biasanya pada Ahad pagi, 24 Mei 2026. Puluhan anak dari SMP IT Darul Abidin berkumpul dengan mata berbinar-binar. Hari itu bukan sekadar jalan-jalan biasa, melainkan momen pamungkas dari petualangan mereka selama satu semester di ekskul aeromodelling, yang dikemas lewat ajang seru bertajuk Darbi Aero Challenge.
Langkah awal mereka dimulai dari dalam hanggar. Di sana, Mas Nuri dari Pusdirga menyambut anak-anak dan langsung mengajak mereka melihat dari dekat deretan pesawat ringan yang sedang parkir. Obrolan mengalir seru saat mereka mulai mengamati maket bandara, mengulik jeroan mesin pesawat, hingga mendengarkan kisah-kisah legendaris tentang burung besi yang pernah berjasa menghiasi langit Indonesia.
Serunya Merakit Hiu Samudera
Puas menyerap ilmu teori, saatnya jemari anak-anak ini bekerja. Tantangan utama hari itu adalah merakit pesawat varian Hiu Samudera. Modul demi modul dipasang dengan penuh ketelitian. Begitu lem mengering, mereka langsung berhamburan ke lapangan untuk melakukan uji terbang.
Ketegangan sempat memuncak saat sesi kompetisi dimulai. Semua mata tertuju ke langit, menyaksikan pesawat siapa yang bertahan paling tenang di udara. Setelah persaingan yang cukup sengit, pesawat rakitan Umar dan Rayhan akhirnya keluar sebagai juara karena terbang paling stabil dan mulus.
“Asyik banget bisa menerbangkan pesawat di lapangan seluas ini. Biasanya kalau latihan di dalam kelas sering banget menabrak tembok. Tapi di sini tantangannya beda lagi, banyak pesawat yang malah ‘tersangkut’ di dahan pohon dan atap hanggar,” celoteh salah satu siswa kegirangan.
Bukan cuma Hiu Samudera, mereka juga memamerkan hasil karya yang dibuat selama satu semester penuh, yaitu pesawat tenaga karet. Sebagai pelengkap kemeriahan, beberapa pesawat elektrik tanpa remote yang mengandalkan pengatur waktu atau timer turut dilepas ke udara, meliuk-liuk bebas mengikuti arah angin.
Dukungan Hangat Guru dan Orang Tua
Di balik riuhnya tawa dan pesawat yang beterbangan, ada kawalan penuh dari orang-orang hebat. Nur Azizah selaku guru pembimbing setia menemani anak didiknya dari awal hingga akhir. Dari pinggir lapangan, duet mentor dari Red Walet Aeromodelling, Lais Abid dan Ronald Wahyu, juga sibuk memberikan arahan teknis dan tips agar pesawat bisa meluncur sempurna.
Menariknya, acara ini juga jadi ajang kedekatan antara anak dan orang tua. Beberapa bapak dan ibu yang hadir tidak cuma duduk menonton, mereka ikut membaur mendengarkan sejarah dirgantara bahkan ikut sibuk membantu anak-anak mereka merakit dan memegangi sayap pesawat tenaga karet saat bersiap meluncur.
Saat pulang mereka sempat singgah di Cibubur Aeromodelling Club (CAC) yang lokasinya terletak di dekat Pusdirga. Di sana mereka sempat melihat para aeromodeller profesional melakukan atraksi penerbangan pesawat model.
Lewat ajang Darbi Aero Challenge ini, lembaran kegiatan ekskul tahun ini resmi ditutup dengan manis, meninggalkan cerita seru dan impian terbang yang semakin tinggi di dalam dada anak-anak.









