Ia keluar setiap pagi dari cerobong pabrik di tepi desa, mengambang rendah sebelum matahari naik, lalu menempel di daun singkong dan atap seng rumah warga. Bau logam bercampur asam. Anak-anak yang berangkat sekolah sudah terbiasa menutup hidung. Mereka tumbuh bersama suara mesin, bukan lagi suara burung.
Di sini, orang-orang menyebutnya kemajuan. Negara menyebutnya hilirisasi.
Di layar televisi, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berbicara tentang masa depan. Tentang nilai tambah. Tentang Indonesia yang tidak lagi menjual bahan mentah. Kata itu kembali diucapkan dengan nada yakin, seolah tak ada yang perlu diragukan. Hilirisasi.
Tak seorang pun di desa ini pernah diundang ke forum itu.
Bagi warga, hilirisasi datang tanpa pengantar. Tanah yang dulu ditanami jagung berubah menjadi pagar seng. Sungai yang dulu dipakai mencuci kini berwarna keruh. Beberapa orang mendapat pekerjaan. Banyak yang kehilangan lahan. Upah bulanan datang, tapi udara yang bersih pergi.
Tidak ada yang menyebut ini dalam debat.
Dalam bahasa kekuasaan, hilirisasi selalu terdengar seperti jalan lurus ke depan. Padahal bagi mereka yang hidup di sekitar proyek itu, jalannya berkelok dan sering berujung buntu. Mereka tidak menolak perubahan. Mereka hanya ingin tahu kenapa perubahan selalu meminta mereka membayar lebih dulu.
Kata hilirisasi sendiri terdengar mulia. Ia lahir dari kritik lama. Indonesia terlalu lama mengekspor bahan mentah dan membeli kembali barang jadi. Maka nilai tambah harus tinggal di dalam negeri. Industri harus dibangun. Lapangan kerja harus diciptakan.
Semua itu benar. Di atas kertas.
Namun di lapangan, hilirisasi tidak datang sebagai konsep ekonomi. Ia datang sebagai keputusan. Sebagai alat berat. Sebagai surat pembebasan lahan. Sebagai papan proyek yang tak pernah menjelaskan berapa lama penderitaan ini akan berlangsung.
Di ruang-ruang publik, Gibran mengulang kata itu dengan konsisten. Ia memakainya untuk menjawab hampir semua persoalan. Pengangguran, UMKM, ekonomi digital, ketimpangan daerah. Bahkan kemenyan.
Ketika ia berbicara tentang hilirisasi kemenyan, sebagian orang tertawa. Mereka mengira ini soal kelucuan. Padahal tawa itu lebih mirip refleks. Publik mulai menangkap satu pola. Apa pun persoalannya, jawabannya tetap sama.
Hilirisasi.
Di titik itu, kata ini berhenti menjadi penjelasan. Ia berubah menjadi doa. Diulang agar terdengar benar. Dijaga agar tak disentuh pertanyaan.
Masalahnya bukan pada kata itu sendiri. Masalahnya pada apa yang tak pernah ikut diucapkan bersamanya.
Tidak ada cerita tentang petani yang tanahnya menyusut. Tidak ada kisah tentang nelayan yang airnya tercemar. Tidak ada pengakuan tentang warga yang terpaksa memilih antara upah bulanan dan kesehatan anaknya. Tidak ada kalimat tentang konflik, tentang kalah dan menang, tentang siapa yang menanggung biaya pembangunan.
Bahasa hilirisasi terlalu bersih untuk kenyataan yang kotor.
Gibran bukan arsitek gagasan ini. Ia pewarisnya. Hilirisasi adalah kata kunci dari era sebelumnya, dipadatkan, dirapikan, lalu diwariskan. Ia aman. Ia terdengar teknokratik. Ia cocok untuk televisi dan media sosial. Ia mudah dihafal dan sulit diserang.
Namun bahasa yang terlalu aman sering kehilangan keberanian untuk jujur.
Ketika hilirisasi terus diulang tanpa wajah manusia di dalamnya, publik mulai menjauh. Bukan karena mereka anti industri, tetapi karena mereka tak lagi menemukan diri mereka di dalam cerita itu.
Di desa ini, tidak ada yang membuat meme. Tidak ada yang menulis cuitan sarkastik. Mereka terlalu sibuk bertahan. Namun olok-olok yang ramai di internet sesungguhnya berakar dari tempat seperti ini. Dari jarak yang makin lebar antara bahasa kekuasaan dan pengalaman sehari-hari.
Meme lahir ketika kata resmi tak lagi memuat kenyataan.
Hilirisasi, jika ingin tetap hidup, harus berani turun ke tanah. Ia harus mau kotor. Ia harus mengakui bahwa pembangunan selalu memakan korban. Ia harus menyebut nama mereka yang kalah, bukan hanya mereka yang diuntungkan.
Jika tidak, ia akan tetap menjadi kata yang sering diucapkan, jarang dijelaskan, dan perlahan kehilangan wibawa.
Dan di bawah cerobong itu, warga akan terus hidup dalam asap, sementara negara terus berbicara tentang masa depan.









