Pagi itu, 23 Agustus 2025, udara di aula Kantor Kelurahan Mekarjaya masih lembap oleh embun pagi, tapi semangat di dalamnya sudah membara. Di tengah ruangan, beberapa pelaku UMKM—sebagian besar penjual makanan itu—duduk di kursi dengan gawai di tangan dan harapan di mata. Mereka bukan datang untuk rapat rutin atau pembagian bantuan, melainkan untuk belajar cara berbicara dengan mesin—mesin yang bisa mengubah foto buram menjadi poster yang memikat hati: kecerdasan buatan.

Di balik inisiasi ini berdiri seorang perempuan muda yang lebih suka bekerja dari balik layar: Francisca Dhita Wedhayanti, atau yang akrab dipanggil Wedha. Aktivis sosial yang tumbuh di tengah hiruk-pikuk kota Depok ini tak pernah puas melihat potensi UMKM yang terpendam hanya karena keterbatasan akses dan keterampilan. Maka, ia pun mendirikan RW Creative Media, sebuah gerakan kecil yang punya mimpi besar: menjembatani dunia digital dengan pelaku usaha mikro yang selama ini merasa asing terhadap teknologi.

“Kita sering mendengar AI sebagai ancaman,” kata Wedha, duduk di sudut ruangan sambil mengamati peserta yang asyik mempraktikkan prompting di layar ponsel. “Tapi saya percaya, AI bisa jadi kanvas bagi imajinasi mereka yang punya cerita tapi tak tahu cara menampilkannya.”

Untuk mewujudkan mimpi itu, Wedha tak bekerja sendiri. Ia menggandeng Koperasi Kelurahan Merah Putih Mekarjaya, yang selama ini menjadi poros komunitas pelaku UMKM di Kecamatan Sukmajaya. Koperasi ini tak hanya menjadi penghubung, tapi juga koordinator yang membantu menggaet peserta dari berbagai lingkungan RW. Tak ketinggalan, Red Walet Digital Academy hadir sebagai mitra teknis, menyediakan pelatih yang tak hanya ahli, tapi juga sabar—karena mengajar ibu-ibu dan bapak-bapak yang baru pertama kali mendengar istilah prompt engineering bukanlah perkara mudah.

Masuklah Vebrian, sang pelatih dari Red Walet. Dengan suara pelan dan gerakan tangan yang terukur, ia memandu peserta membentuk kalimat-kalimat ajaib untuk meminta AI membuat gambar. “Bayangkan Anda sedang menjelaskan pada teman: ‘Ini nasi liwet, hangat, uapnya mengepul, daunnya masih hijau, latar belakangnya kayu tua, gaya fotografi profesional’—itu prompt-nya,” ujarnya.

Dan ajaib, dalam hitungan detik, foto nasi liwet yang sebelumnya redup dan datar berubah menjadi gambar yang seolah bisa dicium aromanya. Seorang ibu penjual kue, Ibu Merry, menatap layarnya tak percaya. “Ini kue saya, tapi kok kelihatan di majalah kuliner?” tanyanya sambil tertawa kecil.

Yang semula hanya foto biasa, kini bisa menjadi flyer, banner, hingga konten media sosial—semua dibuat dalam hitungan menit, tanpa harus bayar desainer. “Dulu saya kira AI itu buat orang kota besar, anak kuliahan,” kata Pak Leo, yang produsen kue juga. “Ternyata, bisa bantu saya bikin brosur yang kelihatan mahal, padahal gratis.”

salah satu karya peserta

Salah satu karya peserta

Antusiasme peserta tak berhenti di sini. Banyak yang langsung meminta agar ada batch kedua. “Saya mau belajar bikin video promosi,” kata Ibu Difansa. “Kalau bisa, ajarkan cara biar produk saya muncul di reels.”

Apresiasi juga datang dari Zulkardi Lefrant, Ketua Koperasi Merah Putih. Baginya, kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, tapi sebuah pencerahan. “Kita setiap hari digempur digital. Tapi selama ini, kita hanya jadi penonton. Hari ini, kita belajar jadi pelaku,” ujarnya. “Ini bukti bahwa teknologi tak harus membuat kita malas—justru bisa membangkitkan kreativitas yang selama ini terkubur.”

Kehadiran Lurah Mekarjaya Ibu Nelda di akhir acara bukan sekadar formalitas. Mereka datang untuk menyaksikan langsung bagaimana inovasi dari bawah bisa tumbuh tanpa anggaran besar, hanya dengan tekad dan kolaborasi. “Ini contoh nyata bottom-up development,” kata Ibu Lurah. “UMKM kita tak butuh banyak uang, tapi butuh ruang, akses, dan sedikit pemandu seperti Mbak Wedha.”

Di tengah hiruk-pikuk kota yang semakin digital, inisiatif Wedha menjadi semacam reset—mengingatkan bahwa teknologi bukan untuk menggantikan manusia, tapi untuk memperkuat cerita mereka. Dari foto buram, lahir poster yang memikat. Dari keraguan, tumbuh kepercayaan. Dan dari satu pelatihan pagi di Mekarjaya, mungkin saja bermula revolusi kecil bagi ribuan UMKM di penjuru kota.

Karena kadang, yang dibutuhkan bukan revolusi besar. Cukup satu orang yang peduli, dan satu prompt yang tepat:
“Buatkan saya dunia di mana usaha kecil bisa bersinar.”
AI menjawab. Dan kali ini, manusia yang mengambil langkah pertama.