Jika Kasepuhan menyambut kita dengan kemegahan gerbang bata merahnya, Keraton Kanoman menawarkan sensasi petualangan yang berbeda. Untuk mencapainya, kita harus membelah hiruk-pikuk Pasar Kanoman yang legendaris. Tersembunyi di balik lapak pedagang, keraton ini berdiri kokoh sebagai simbol keteguhan sejarah yang tak luntur dimakan zaman.

Kanoman bukan sekadar tetangga Kasepuhan, ia adalah “saudara kandung” yang lahir dari rahim sejarah yang sama, namun memilih jalan setapak yang berbeda untuk menjaga warisan Sunan Gunung Jati.

Satu Akar, Dua Cabang

Sejarah Kanoman tak bisa dilepaskan dari Kasepuhan. Terpecahnya Cirebon menjadi Kasepuhan dan Kanoman terbilang unik. Waktu itu, kedua putra mahkota Cirebon, yaitu Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya, “ditahan” di Mataram oleh Sultan Amangkurat I sebagai tawanan politik.

Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten lalu membebaskan keduanya saat ada pemberontakan Trunojoyo. Sultan Ageng Tirtayasa yang juga merupakan keturunan Sunan Gunung Jati (Sultan Cirebon) merasa perlu mencegah perebutan kekuasaan antara Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya.

Karena itu Sultan Ageng Tirtayasa menengahi keduanya dan menginisiasi pembagian kekuasaan menjadi Kasepuhan (Sultan Sepuh) dan Kanoman (Sultan Anom). Itulah awal cerita munculnya Kanoman Cirebon.

Meski lahir dari satu garis keturunan Sunan Gunung Jati, Kanoman memiliki karakter yang unik. Jika Kasepuhan sering dipandang sebagai wajah administratif dan kemegahan kesultanan, Kanoman sering kali dianggap sebagai “penjaga marwah” tradisi yang lebih kental. Keduanya adalah dua sisi dari satu koin emas sejarah Cirebon.

Gerbang Kanoman Cirebon juga dihiasai dengan keramik

Estetika yang Senada, Jiwa yang Berbeda

Secara arsitektur, Kanoman tetap setia pada semangat kosmopolitanisme sang kakek buyut, Sunan Gunung Jati. Di sini, kita masih akan menemukan jejak akulturasi yang identik dengan Kasepuhan.

Seperti halnya di Kasepuhan, dinding-dinding Kanoman juga dihiasi oleh porselen-porselen Tiongkok dan Eropa. Ini membuktikan bahwa keterbukaan terhadap dunia luar bukan hanya milik satu pihak, melainkan jati diri keluarga besar kesultanan.

Namun, perbedaannya terasa pada suasana. Kanoman memiliki aura yang lebih “intimate” dan sakral. Letaknya yang “tersembunyi” di balik pasar seolah menjadi metafora bahwa kemuliaan tradisi terkadang memang harus dijaga dengan kerendahan hati di tengah keramaian rakyat jelata.

Upacara Adat, Benang Merah yang Tak Putus

Meski secara administratif terpisah, dalam hal ritual, Kanoman dan Kasepuhan adalah dua tubuh dengan satu nyawa. Upacara adat besar seperti Panjang Jimat (Maulid Nabi) masih dilakukan dengan esensi yang sama. Keduanya tetap menjalankan ritual jamasan (pencucian benda pusaka) dengan khidmat.

Inilah bukti bahwa meski secara politik mereka pernah “pecah”, namun secara spiritual dan budaya, mereka tetap satu. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa pilar Meaning & Purpose masyarakat Cirebon begitu kuat. Mereka tahu dari mana mereka berasal dan apa yang harus mereka jaga secara bersama-sama.

Mengunjungi Kanoman setelah dari Kasepuhan memberikan kita perspektif yang lengkap tentang Cirebon. Jika Kasepuhan mengajarkan kita tentang bagaimana Islam merangkul dunia dengan megah, Kanoman mengajarkan kita bagaimana tradisi itu tetap hidup dan bernapas di tengah-tengah denyut ekonomi rakyat (pasar).

Dua keraton ini adalah bukti nyata dari kosmopolitanisme Sunan Gunung Jati yang tidak hanya berhenti pada bangunan, tapi juga pada kemampuan keluarga besarnya untuk tetap eksis meski dalam jalur yang berbeda. Sekali lagi, Cirebon membuktikan bahwa untuk menjadi besar, kita tidak harus selalu seragam, tapi kita harus selalu memiliki akar yang dalam.