Jalan-jalan ke Cirebon, rasanya tak lengkap bila tak berkunjung ke Kasepuhan Cirebon. Saat berkunjung ke Cirebon, redaksi lantang.id juga menyempatkan diri untuk berkunjung ke Kasepuhan Cirebon, meski waktu yang ada terbatas.
Kasepuhan Cirebon penting untuk dikunjungi, karena tempat ini merupakan keraton tertua di Cirebon dan jadi saksi sejarah tokoh paling fenomenal di kota ini, yaitu Sunan Gunung Jati. Dia adalah salah satu anggota Walisongo, sekaligus Sultan Cirebon.
Saat masuk ke area Kasepuhan Cirebon, langkah kaki di pelataran Keraton Kasepuhan Cirebon seolah membawa kita melintasi lorong waktu. Udara pagi yang lembap di pesisir utara Jawa ini menguarkan aroma sejarah yang kental. Namun, ada satu pemandangan mencolok, yaitu deretan keramik Tiongkok dan Eropa yang tertanam rapi di dinding pagar bata merah khas keraton.
Bagi mata awam, ini mungkin sekadar dekorasi. Namun bagi pecinta sejarah, ini adalah “prasasti” fisik penanda zaman. Di balik tembok ini, kita tidak hanya menemukan jejak dakwah, melainkan sebuah manifestasi awal dari semangat warga dunia—sebuah kosmopolitanisme yang melampaui zamannya.

Arsitektur Kasepuhan Cirebon menggabungkan gaya Hindu Majapahit, China, hingga Eropa.
Perkawinan estetika Hindu Majapahit dan ornamen Tiongkok
Salah satu bukti fisik paling tak terbantahkan dari jiwa kosmopolit Sunan Gunung Jati terletak pada arsitektur bangunannya. Jika kita perhatikan gerbang dan struktur utama keraton, kita akan melihat langgam Hindu Majapahit yang sangat kuat pada penggunaan bata merah tanpa semen dengan teknik gosok.
Struktur ini mengingatkan kita pada candi-candi di Jawa Timur, menunjukkan penghormatan Sunan Gunung Jati terhadap akar tradisi lokal yang sudah ada sebelum Islam masuk. Islam datang tidak untuk menghapus identitas lokal, melainkan memperkayanya dengan elemen global.
Di sela-sela struktur bata merah yang maskulin itu, terselip kelembutan ornamen dari negeri seberang. Piring-piring porselen Dinasti Ming dan piring-piring Belanda berwarna biru-putih (delftware) ditempel secara simetris, menciptakan kontras visual yang luar biasa indah. Ini bukan sekadar tempelan, tapi pesan bahwa kebudayaan Islam yang adaftif dari pemikiran Sunan Gunung Jati.
Jejak genetik dan pernikahan lintas benua
Sunan Gunung Jati, atau Syarif Hidayatullah, adalah bukti hidup bahwa perbedaan bukanlah sekat. Secara genetik, beliau adalah perpaduan dua dunia. Lahir dari pasangan Syarif Abdullah (penguasa Mesir keturunan Arab) dan Nyai Rara Santang (putri Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran), darah yang mengalir di tubuhnya adalah campuran antara Timur Tengah dan Nusantara.
Keterbukaan ini tidak berhenti di garis keturunan. Dalam perjalanan hidupnya, beliau mempraktikkan “diplomasi cinta” yang sangat berani. Beliau menikahi perempuan dari berbagai latar belakang budaya dan kerajaan, termasuk yang paling ikonik, Putri Ong Tien Nio dari Dinasti Ming, Tiongkok.
Pernikahan ini bukan sekadar urusan domestik, melainkan pernyataan politik dan budaya bahwa Islam yang beliau bawa adalah Islam yang merangkul, bukan memukul. Itulah sebabnya, banyak ornament keramik China di sekitar Keraton Kasepuhan Cirebon. Ini semacam bukti cinta Sunan Gunung Jati kepada sang istri. Mengingatkan pada kisah Taj Mahal.

Gerbang dalam Keraton Kasepuhan Cirebon dengan ornamen keramik Tiongkok.
Menjadi warga dunia, melampaui konservatisme di masa lalu
Di masa kini, kita mengenal istilah Global Citizen atau warga dunia. Namun, Sunan Gunung Jati sudah mempraktikkannya beratus tahun lalu. Beliau menunjukkan bahwa menjadi tokoh agama yang taat tidak berarti harus menjadi konservatif yang menutup diri. Ia adalah sosok kosmopolit yang melampaui zaman.
Berkunjung ke Kasepuhan Cirebon bukan sekadar wisata religi untuk berziarah. Ini adalah perjalanan untuk menyadari kembali bahwa akar jati diri kita sebagai bangsa adalah keterbukaan.
Sunan Gunung Jati telah mewariskan sebuah pesan kuat dari dinding-dinding keramik dan gapura bata merah itu, bahwa untuk menjadi besar, kita harus berani menjadi bagian dari dunia. Pemikiran itu sudah dimanifestasikan sang Sunan dan juga Sultan ratusan tahun yang lalu.









